Aqiqah

Menurut bahasa ‘Aqiqah artinya : memotong. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, karena dipotongnya leher binatang dengan penyembelihan itu. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah : Rambut yang terdapat pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 ekor untuk bayi laki-laki dan 1 ekor untuk bayi perempuan.

Hukum Aqiqah
Aqiqah hukumnya sunnah muakadah bagi orang tua/wali bayi jika mampu untuk melaksanakannya, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang artinya:

“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (aqiqahnya) bagi dia pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dinamai dia dan dicukur rambutnya.” (HR. Imam Ahmad: 5/8, 12 dan An-Nasa’i: 7/166, dan dishahihkan lebih dari satu orang)

Hikmah Aqiqah
Aqiqah merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah setelah dikaruniai seorang anak dan sebagai wasilah kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk menjaga dan melindungi bayi yang dilahirkan.

Hukum-hukum Aqiqah:
1. Kondisi kesehatan dan usia hewan aqiqah.
Apa yang diperbolehkan dalam berqurban dari segi umur dan kondisi fisik, dan apa yang tidak diperbolehkan untuk berqurban juga tidak diperbolehkan untuk aqiqah.
2. Memakan sebagian dan membagikannya sebagian.
Dianjurkan untuk membaginya sebagaimana pembagian dalam daging kurban, memakan sebagian darinya, mensedekahkan dan menghadiahkan sebagian lainnya.
3. Hal yang dianjurkan pada hari aqiqah.
Disunnahkan aqiqah untuk laki-laki dengan dua ekor kambing karena Rasulallah Shallahu ‘alaihi wasallam menyembelih dua ekor kambing (untuk aqiqah) Hasan. (HR. At-Tirmidzi, dan dia menshahihkannya)
(Dan untuk anak perempuan satu ekor kambing-red)

Dianjurkan juga untuk memberi nama pada hari ketujuhnya, dengan nama yang terbaik, dan dianjurkan untuk mencukur rambutnya dan bersedekah dengan emas dan perak yang diukur dari berat rambutnya atau disesuaikan dengan uang. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits ketika Rasulallah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (aqiqahnya) bagi dia pada hari ketujuh (dari kelahirannya), dinamai dia dan dicukur rambutnya.” (HR. Imam Ahmad: 5/8, 12 dan An-Nasa’i: 7/166).

4. Adzan dan iqamah di telinga anak yang dilahirkan.
Para ulama menganjurkan untuk adzan di telinga kanan bayi dan iqamah di telinga kiri dengan mengharap perlindungan Allah Subhanahu wata’ala dari gangguan jin. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat:
“Barang siapa yang telah mendapat kelahiran anak, maka dibacakan adzan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka anak tersebut tidak akan diganggu ummu sibyan (jin).” (Disebutkan oleh Ibnu As-Suni secara marfu’: 617 dan Imam An-Nawawi menyebutkannya di dalam Al-Adzkar: 253, juga penyusun At-Talkhis namun dia tidak berkomentar).

Apabila telah lewat tujuh hari belum menyembelih aqiqah, maka sah untuk menyembelih pada hari keempat belas atau hari keduapulu satu, dan jika bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh tidak perlu aqiqah baginya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s